Cari cerpen, esai, buku, atau berita

Juli 1, 2026 3 Menit Baca Karya Sastra

SEPATU

Oleh admin

Aku punya kebiasaan aneh: tiap ke mall, pulangnya pasti bawa sepatu. 

Mungkin semua bermula dari masa kecil, waktu itu, sepasang sepatu baru yang dibelikan untukku malah diberikan ke sepupu. Katanya, dia lebih butuh. Orangtuaku janji akan membelikan lagi. Tapi sepatu itu tak pernah datang.

Sejak menghasilkan uang sendiri, aku membalas dendam diam-diam. Setiap bulan, aku beli sepatu. Beragam warna dan model. Sampai kamar sebelah penuh.

“Jangan-jangan nanti kita harus tidur bareng sama sepatu-sepatumu,” keluh Adi, suamiku, sambil geleng-geleng kepala. 

Sebenarnya aku juga sering merasa menyesal ketika melihat tentengan belanjaanku. Aku seperti tidak sadar ketika mencoba dan kemudian membayarnya di kasir. Aku coba berhenti. Suatu malam, di kamar penuh koleksi sepatu. Lampu redup. Sepi. Tapi tiba-tiba….

Aku capek Cuma dipajang, bisik sebuah suara.

Aku menoleh. Kosong.

Kulitku udah mulai ngelupas!” suara lain menyahut.

“Nyonyaku jahat. Aku belum pernah dipakai ke luar rumah,”rengek sepatu slip-on yang masih terbungkus plastik.

Aku membeku. Suara-suara itu terus bermunculan. Ribut. Panik.

“Diam!” teriakku. “Kalian mau apa sih?!”

“Kami ingin berguna,Nyonya!”

Aku terduduk. Suara-suara itu seperti datang dari dalam diriku sendiri. Mungkin aku gila. Tapi mungkin juga…ini nurani yang selama ini kubungkam. 

Keesokan harinya, aku mulai memilah. Sepatu-sepatu kukemas

Sebagian kupajang di garasi dan kutulis: “Sepatu Layak Pakai—Ambil Gratis.”

Adi memandangku dengan alis terangkat.

“Tumben, Ma. Hati lagi seluas samudra?”

Aku hanya tersenyum. Tapi ia tahu, sesuatu dalam diriku telah berubah.

“Jadi, kamar ini mau kamu kosongin, ya?” tanyanya lagi sambil mengintip ke rak yang kini nyaris kosong.

“Iya. Kan sekarang semua sepatu cukup ditaruh di lemari belakang.”

Dia tertawa pelan

“Nanti kamar ini aku pakai, ya.”

“Buat apa?”

“Buat koleksi legoku. Udah nggak muat juga di ruang kerja.”

Aku mendelik, “jadi, kamu nyuruh aku berhenti beli sepatu supaya kamu bisa pindahin mainanmu?”

Dia nyengir lebar

“Ma, kamu tuh polos banget. Kamu pikir suara sepatu yang kamu dengar malam itu asli ? Itu rekaman! Aku sembunyiin speaker kecil di belakang rak, lengkap dengan efek suara.Kamu lihat, ‘kan,berhasil toh?”

Aku ternganga.

Seketika, segala drama batin dan keputusan mulia semalam terasa seperti kena prank.

“Berarti kamu yang bikin semua sepatu itu ‘berbicara’?”

“Ya…karena kamu nggak mau dengerin aku. Tapi kamu dengerin sepatu. Jadi aku ngomomg lewat mereka.”

Aku melotot dan hendak mengeluarkan senjataku, cubitan sepedas cabe. 

Melihat gelagat itu, Adi segera lari meghindari. Ampun Ma….tapi gara-gara itu kamu khan jadi sadar bahwa menumpuk sepatu itu hanya buang-buang uang. Mama bisa gunakan uang untuk hal yang lebih berguna. 

Aku terdiam. Adi memegang pundakku dan berkata, aku bangga sama Mama hari ini, karena akhirnya bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, senyum adi sambil memandangi aku.

Dengan kesal aku masih menjawab, tapi aku sebel tahu kena pranknya Papa, mulutku bersungut.

Adi tertawa. “Prank edukatif.”

Aku diam. Antara kesal dan geli. Tapi yang pasti, aku tak pernah merasa selepas ini.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berjalan ke luar rumah hanya dengan satu pasang sepatu.

Yang nyaman. Yang kupilih bukan karena luka masa lalu. Tapi karena akhirnya aku benar-benar siap melangkah.

 

admin

Penulis dan pemikir di balik kata-kata Jejak Puji. Menulis untuk membagi rasa, meretas batas ingatan, dan menghidupkan kisah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *