OBROLAN DI UJUNG GANG
Pagi itu, matahari datang tanpa semangat.
Cahayanya jatuh diujung gang sempit, menyentuh tumpukan yang tak pernah benar-benar dianggap ada. Selain ketika baunya mulai mengganggu. Di sanalah, di sudut yang dibatasi tembok retak dan pot bunga pecah, dua dunia bertemu dalam diam; yang dibuang dan yang membuang.
Tak ada yang tahu sejak kapan percakapan itu dimulai.
Mungkin sejak pertama kali manusia lupa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mungkin sejak sesuatu yang seharusnya kembali ke tanah justru bercampur dengan sesuatu yang tak pernah bisa pulang.
Atau mungkin, percakapan itu selalu ada, hanya saja manusia tak pernah cukup diam untuk mendengarnya.
” aku heran sama kamu” suara itu lirih, sedikit bergetar, seperti tubuh yang mulai kehilangan bentuknya. ”kenapa kamu selalu menjauh?”
Yang ditanya tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat, seolah mempertimbangan apakah percakapa ini layak diteruskan . tubuhnya masih utuh, licin, dan keras. Warna-warna cerah yang dulu, membuatnya menarik kini justru membuatnya mencolok di antara kotoran.
“aku…tidak menjauh,”jawabnya akhirnya
Sisa makan itu terdiam.
Ia memang bau. Ia tahu. Sejak semalaman, sejak ia dibuang begitu saja dari piring yang belum benar-benar kosong. Nasi yang masih hangat, sayur yang bahkan belum disentuh sepenuhnya. Semua menjadi satu, membusuk pelan-pelan, ditemani lalat yang tak pernah permisi.
”aku tidak pernah minta jadi seperti ini, ”katanya pelan.
Plastik itu menghela napas, jika ia bisa bernapas.
”kita semua tidak pernah minta dibuang.
Hening sebentar.
Angin lewat, membawa sedikit bau yang menyebar ke rumah-rumah di sekitarnya dari dalam salah satu rumah, seorang perempuan menutup jendela cepat.
”bau sekali…,” gumamnya.
Tak ada yang menjawab
Gang itu sebenarnya tidak terlalu buruk
Ada anak-anak yang masih bermain di sore hari, berlari sambil tertawa, meski harus menghindari genangan dan bau. Ada ibu-ibu yang sesekali duduk di teras, berbincang tentang harga cabai dan kabar tetangga. Ada juga bapak-bapak yang pulang malam dengan wajah Lelah, membawa sisa-sisa hari yang tak pernah benar-benar selesai.
Namun diujung gang itu, selalu ada sesuatu yang dibiarkan. Tempat sampah yang tak pernah cukup. Kantong-kantong yang diletakkan begitu saja. Dan waktu yang seperti lupa untuk datang mengangkut.
”Aku iri sama mereka.”
Plastik itu memecah keheningan
”Siapa?” tanya sisa makanan
”ranting-ranting itu. Daun-daun yang jatuh di halaman. Mereka menyatu dengan tanah.hilang dengan cara yang tenang.”
Sisi makanan tersenyum pahit.
“kamu tahu? Aku sebenarnya juga bisa seperti itu.”
”lalu kenapa tidak?”
”Karena aku tidak sendiri.”
Mereka saling diam lagi
Diantara mereka, ada yang lain, botol kaca, kertas basah, pecahan styrofoam, dan sesuatu yang sudah tak bisa lagi dikenali. Semuanya bercampur, saling menekan, saling kehilangan identitas.
”aku bosan,” kata plastik itu tiba-tiba. ”aku tidak bisa kembali. Aku hanya…ada lama sekali.”
”Kamu kalau diolah lagi ?” tanya sisa makanan, mencoba mencari kemungkinan.plastik itu tertawa kecil.
”Bisa. Aku bisa jadi sesuatu yang berguna lagi. Tapi…siapa yan mau repot?”
Pertanyaan itu menggantung
Tidak perlu dijawab.
Siang menjelang, panas mulai terasa. Bau semakin kuat. Lalat semakin banyak. Dan di satu titik, sesuatu mulai bergerak di tubuh sisa makan itu.
”aduh…”
”apa?” plastik itu bertanya
”mereka datang lagi.”
”siapa?”
”yang itu…kecil-kecil …putih…”
Plastik itu tidak menjawab. Ia tahu
Belatung
”Maaf ya,” kata sisa makanan pelan. ”aku jadi..tidak enak didekati.”
Plastik diam sebentar, lalu berkata dengan nada mencoba ringan, “Kamu genit.”
Sisa makanan itu tertawa, meski pahit.
”bukan genit. Risih.”
”Ya..begitulah siklusmu.”
Iya. Aku tahu aku akan habis. Tapi..tetap saja.”
Tetap saja, ada rasa tidak nyaman ketika tubuh perlahan menjadi sesuatu yang lain. Ketika kehadiranku sendiri mulai berubah menjadi makanan bagi yang lain.
”aku juga tidak enak,” kata plastik itu tiba-tiba.
”kamu kenapa?”
”aku tidak berubah. Itu masalahnya.”
Mereka saling memahami, dengan cara yang aneh
Yang satu terlalu cepat hilang. Yang satu terlalu lama tinggal
Keduanya sama-sama tidak diinginkan.
Sore hari, seorang anak perempuan lewat
Ia membawa kantung kecil ditangannya, berhenti sebentar di ujung gang, lalu menatap tumpukan itu. Tidak lama, hanya beberapa detik. Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.
”bu,” katanya kemudian, memanggil ke dalam rumah.” Ini kok nggak diangkut-angkut ya?”
Dari dalam , suara ibunya menajwab, ”Ia nanti juga diambil.”
”kapan?”
”Ya…nanti.”
Anak itu tidak langsung pergi.
Ia mendekat sedikit, menutup hidungnya, lalu melihat lebih lama. Matanya bergerak dari satu benda ke benda lain, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum pernah diajarkan secara utuh.
”kasihan ya …”gumamnya.
Tak ada yang mendengar.
Atau mungkin ada
Malam datang pelan.
Lampu-lampu menyala, satu per satu. Gang itu kembali hidup dengan suara televisi, percakapan, dan sesekali tawa. Namun di ujung gang, waktu terasa lebih lambat.
”aku tadi dipandang,” kata sisa makanan.
”Siapa?”
”anak kecil itu.”
”Lalu?”
”entah . Rasanya…berbeda.”
Plastik itu tidak menjawab.
Ia juga merasakan sesuatu.
Ada jeda yang tidak biasa. Ada perhatian yang tidak sering datang.
“menurutmu,”sisa makanan itu berkata lagi,” manusia itu ngerti nggak?”
Plastik itu diam lama
Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab cepat.
”aku tidak tahu,”katanya akhirnya. ”mungkin mereka tahu. Tapi lupa.”
”Lupa?”
”iya. Mereka tahu bahwa kita tidak seharusnya disini. Tapi mereka terbiasa.”
Terbiasa.
Kata itu jatuh pelan, tapi berat.
Beberapa hari kemudian, sesuatu berubah.
Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk menggeser sedikit kebisaan.
Di ujung gang itu, muncul dua tempat berbeda.
Satu untuk yang basah. Satu untuk yang kering.
Tidak semua orang langsung mengikuti. Tidak semua orang peduli. Tapi ada yang mulai mencoba.
Anak perempuan itu, misalnya.
Ia datang setiap pagi, membawa dua kantong kecil. Ia berhenti sebentar, memastikan semuanya berada di tempat yang benar. Kadang ia masih ragu, kadang ia bertanya.
”bu, ini masuk mana?”
Ibunya yang kini lebih sering keluar rumah, menjawab sambil ikut memilah.
”Yang ini ke sini. Yang itu ke sana”
Perubahan kecil
Tapi nyata.
Suatu pagi, truk datang.
Tidak seperti biasanya, yang hanya mengambil dan pergi, kali ini ada seseorang yang turun.ia memerikasa, memilah lagi, lalu mengangkut dengan lebih hati-hati.
Sisa makanan itu sudah hampir habis.
Tubuhnya menyatu dengan yang lain, berubah menjadi sesutau yang lebih gelap, ia lebih tenang.
”aku rasa…aku akan pergi duluan,”katanya pelan.
Plastik itu diam
”Iya.”
”jangan lama-lama di sini ya.”
Plastik itu tidak menjawab.
Ia tahu, ia akan tetap ada
lebih lama dari yang lain.
Beberapa minggu kemudian, gang itu terasa berbeda.
Tidak sepenuhnya bersih. Tidak sempurna. Tapi tidak lagi seperti dulu.
Air mengalir sepenuhnya bersih. Air mengalir lebih lancar, bau tidak lagi menyengat. Dan di ujung gang, tidak ada lagi tumpukan yang membisu terlalu lama.
Plastik itu akhirnya berpindah.
Ia tidak tahu kemana. Mungkin ke tempat pengolahan.Mungkin ke tempat lain yang belum ia pahami. Tapi ia tidak lagi berada di sana.
Di tempat yang lama, kini hanya ada tanah yang perlahan pulih.
Dan di atasnya,beberapa daun jatuh.
Tenang.
Seperti yang pernah ia iri-kan
”menurutmu, mereka akhirnya ngerti?”
Suar itu seperti datang dari ingatan.
Atau dari sesuatu yang tersisa.
Jawabnya tidak langsung terdengar
Mungkin karena memang belum selesai.
Mungkin karena memahami tidak pernah benar-benar tuntas, ia selalu harus diulang, diajarkan, diigatkan.
Tapi di suatu pagi yang sederhana, ketika seorang anak kecil berhenti sejenak sebelum membuang sesuatu, lalu memilih tempat yang tepat, di situlah, mungkin, jawaban itu mulai tumbuh.
Pelan.
Seperti tanah yang kembali menerima.
Seperti aliran yang akhirnya menemukan jalan.
Dan seperti percakapan yang dulu hanya terdengar di antara yang terbuang, kini, perlahan, mulai didengar oleh mereka yang membuang.
admin
Penulis dan pemikir di balik kata-kata Jejak Puji. Menulis untuk membagi rasa, meretas batas ingatan, dan menghidupkan kisah.
Tinggalkan Balasan