JENDELA BESAR ITU
Setiap pagi saat berangkat kerja, aku selalu melewati sebuah rumah tua dengan jendela besar. Rumah itu tampak megah, meski dimakan usia. Anehnya, aku tak pernah melihat siapa pun keluar-masuk. Rumah itu seolah terjebak dalam diam.
Namun, dibalik jendela besar itu, selalu ada seorang bapak tua yang duduk dengan wajah tenang, mengamati lalu lalang orang yang melintas d depannya. Tak pernah bicara, tak pernah beranjak. Hanya duduk. Diam.
Entah sejak kapan, aku terbiasa menoleh ke jendela itu setiap hari. Pagi saat berangkat kerja, dan sore saat pulang. Seperti kebiasaan yang tumbuh tanpa kusadari. Kepala ini selalu selalu reflex menengok ke arah jendela besar itu.
Ada yang menenangkan dari sosok bapak itu. Ketika orang-orang sibuk mengejar waktu, ia justru duduk diam, menatap kehidupan seperti seorang penonton setia dunia.
“Apa tidak bosan?” pikirku. Duduk begitu saja dari pagi hingga sore. Siapa dia sebenarnya ? Dan kenapa aku jadi begitu tertarik?
Hingga suatu hari, saat aku menoleh seperti biasa, si Bapak tersenyum padaku. Aku terkejut. Selama ini ia hanya memandangi keramaian tanpa fokus pada siapa pun. Tapi kali ini, matanya seperti menyapaku.
Namun keesokan harinya, jendela itu tertutup. Tak ada lagi bapak tua dibaliknya . Rasanya…hampa.
Hari itu di kantor aku gelisah, Tak bisa fokus. Ada sesuatu yang hilang, seperti potongan kecil dari hidupku tak lagi berada di tempatnya.
Sore harinya, aku bertekad: aku akan menyapa beliau. Aku ingin mengenalnya, atau sekadar mengucap terima kasih atas kehadirannya yang diam-diam menenangkan.
Tapi jendela itu masih tertutup. Tak berubah. Tak ada jawaban.
Aku mencoba bertanya pada penjual gorengan di seberang jalan, penjaga toko di dekat sana. Tapi tak satu pun tahu siapa penghuni rumah itu. “Selalu begitu”, kata mereka. “Kami juga tak pernah melihat siapa-siapa.”
Hari-hari berlalu. Jendela tetap tertutup. Dan pikiranku semakin terpaut. Rasanya aneh—aku begitu kehilangan seseorang yang bahkan tak kukenal.
Seminnggu kemudian. Kerumunan memenuhi halaman rumah itu. Ada ambulans. Suara tangis. Kepanikan.
Aku mendekat. Rumah itu…tampak berbeda. Lebih tua. Lebih kosong. Seperti rumah yang telah lama ditinggalkan.
Di ruang tamu yang berdebu, kulihat papan tulis penuh coretan cerita. Ada sketsa wajah, potongan kalimat, dan catatan harian. Semua tampak acak, tapi terasa hidup.
Diatas meja kayu, tergeletak sebuah naskah, lusuh oleh waktu.
Judulnya : “Jendela Besar itu”
Tokoh utamanya bernama: “Aku”
Aku menggigil
Seluruh kisah yang baru saja kualami, ternyata sudah dituliskan oleh Si Bapak. Detailnya persis, dari perjalananku menengok ke jendela, rasa penasaranku, hingga momen saat aku membaca naskah ini.
Aku terduduk. Mataku tertumbuk pada kalimat terakhir naskah itu:
“lelaki itu mendekat ke jendela, dan akhirnya tahu…dia telah membaca seluruh hidupku.
Aku menoleh. Menatap jendela besar itu.
Dan di sana, aku melihat bayanganku sendiri
Apakah aku benar-benar nyata?
Atau hanya bagian dari tokoh rekaan si Bapak ?
Malam itu, aku membawa pulang naskah tersebut. Kubaca berulang-ulang, lalu kutulis kembali – dengan kalimat pembuka yang sama : “Setiap pagi aku selalu menengok ke jendela besar itu…”
admin
Penulis dan pemikir di balik kata-kata Jejak Puji. Menulis untuk membagi rasa, meretas batas ingatan, dan menghidupkan kisah.
Tinggalkan Balasan