Cari cerpen, esai, buku, atau berita

Juli 1, 2026 14 Menit Baca

KETIKA MEREKA BICARA

Oleh admin

“Aduh, Banyu Kau menusuk-nusukku,” rintihku. Tapi Banyu seolah tak peduli dengan rintihanku. Malam itu, langit hanya bisa menahan napasnya. Ya, hujan tidak lagi terdengar seperti kidung, melainkan seperti ribuan jarum yang menusuk atap genteng. Aku Bumi, hanya bisa menggeliat dalam diam, menahan perih merayap dari akar hingga punggung gunung. Kulitku sudah tidak harum oleh daun basah, tetapi kini terasa seperti luka yang disiram garam.

Banyu, saudaraku yang lahir dari air awan, mengalir di sisiku. “Aku sudah tak lagi suci, Bumi,” bisiknya, getir. “Tubuhku keruh, sarat sampah yang mengapung seperti mimpi buruk yang tak mau tenggelam.

” Bayu, napas semesta yang dulu menenun kesejukan, kini berlari dengan amarah. “Aku menampar atap, merobek tirai hutan. Aku bukan lagi belaian sore di pematang sawah, aku badai yang kau undang sendiri.”

“Bumi, aku tidak bisa menahannya, aku harus terus mengalir, aku harus terus turun dari langit,” desah Banyu. Dia pun tak kuasa menahan amarahnya karena badannya kotor oleh limbah dan plastik, dia ingin kembali jernih. “Bagaimana pun caranya aku harus kembali jernih, jadi terimalah bumi hujanku, aliranku,” jerit Banyu.

Sementera Bumi hanya bisa menerima hujaman Banyu, dia tidak bisa menahan lagi, pelindungnya sudah tidak ada. Pohon-pohon sudah ditebangi manusia, sebagian lagi terbakar oleh api yang dibantu oleh hembusan napas Bayu. Bayu terus meradang karena panas bumi yang sudah tak tertahankan. Amarahnya disambar oleh Agni, hingga membakar hutan, membakar rumah-rumah. Bumi tak bisa menahan karena Banyu sudah habis pada saat musim hujan, dia tidak memiliki penampungan, sungai-sungai tidak bisa menampung air hujan, hutan tidak bisa menyerap curahan hujan, saat Banyu memberikannya kepada Bumi.

Banyu terlalu berlebihan mencurahkan hujannya sehingga bumi tidak bisa menampungnya. Bayu pun memanfaatkan kemarahan Banyu dengan membawa badai sehingga hujan badai terjadi.

Bumi hanya bisa menahan sakit. Badannya di permukaan gundul dan ditambal beton yang tak bisa menyerap air. Sementara di dalamnya penuh rongga-rongga sehingga dia pun merasa kepanasan, karena rongga-rongga di tubuhnya tak mampu menahan air. Di rongga tubuhnya sudah teracuni cairan limbah tambang. Badannya pun sudah menurun karena dia tidak mampu lagi menahan kesakitan dari rongga-rongga tubuhnya yang luka dan menyerap racun.

Pohon-pohon dan tanaman yang biasanya membantu menyediakan obat sudah tidak ada, mereka lenyap, karena penebangan dan kebakaran. Akhirnya karena Bumi sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya dia pun tumbang. Tanah longsor karena pembusukan air yang terus disemburkan oleh Banyu tapi tak bisa diserap oleh Bumi.

Bumi hanya bisa menerima perlakuan manusia yang menebang pohon, membuang sampah, melakukan kegiatan eksplorasi bumi, tanpa peduli bagaimana Bumi menahan rasa sakit, membusuk dan kepanasan.

Kondisi bumi ini membuat Banyu marah, karena badannya menjadi kotor dan bau. Dia ingin kembali jernih, tetapi sudah tidak ada pohon yang membantu menjernihkannya, bumi tidak mau menyerap karena takut keracunan. Ketika bumi menyerap maka akan menyebabkan pohon keracunan. Banyu tidak bisa menahan amarahnya dia terus membersihkan dirinya dengan meminta awan menampungnya dan mencurahkan ke Bumi, supaya sungai-sungai kembali jernih. Tanaman mau menerimanya, Bumi juga tidak menjauh darinya.

Saat Bumi kepanasan, Bayu marah dia mengajak Agni untuk memporak-porandakan bumi dengan membakar hutan, membakar rumah-rumah manusia yang tidak pernah peduli kepada Bumi. Bayu terus mengamuk. Puting beliung, menumbangkan pohon yang rapuh karena tidak dapat mencengkeram bumi yang sakit. Puting beliung terus menghancurkan rumah-rumah.

Bumi hanya bisa menangis menerima amarah Banyu dan Bayu. Dia tidak bisa membantu pohon untuk tetap tumbuh dan membantu manusia terhindar dari bencana. Dirinya juga sedang menahan kesakitan, karena Bayu, karena Banyu, dan karena Agni. Bayu terus bersenangsenang dengan Agni, hingga lupa diri. Banyu tidak mau mengingatkan Bayu. Dia mencibir melihat kemesraan Bayu dan Agni.

Banyu terus menjelek-jelekan Bayu kepada Bumi. “Bumi, Bayu itu keterlaluan, dia terus bermesraan dengan Agni,” ujar Banyu. Bumi yang menyayangi Agni, hanya bisa terdiam mendengar laporan Banyu. Bumi memang menyayangi Agni karena dia mampu meredam kesepian Bumi dengan kehangatannya dan keramahannya sehingga membuat Bumi bercahaya.

Namun saat ini Agni seringkali membuat Bumi kesakitan karena ulahnya bersama Bayu.

“Banyu, apa kamu tidak bisa membantuku?”rintih Bumi. Banyu menoleh, “Apa yang bisa aku bantu?” “Kamu bisa mendekati Agni untuk sementara agar bisa menjauhkan Bayu dari Agni,” mohon Bumi.

“Ah, Agni terlalu angkuh, dia selalu menjauh dari aku atau bahkan dia seringkali menyembur dengan kata-katanya yang pedas,” jelas Banyu. “Banyu kamu adalah yang paling bisa tenang diantara kami,” ujar Bumi. Dengan ketenanganmu, kamu bisa menenangkan Agni. Melihat Bumi yang ringkih dan permohonannya, Banyu pun akhirnya bersedia membantu.

Banyu melangkah perlahan menuju lembah tempat Agni bersemayam. Udara di sekitarnya panas bergetar, seperti nafas yang menahan amarah. Di kejauhan, nyala merah menari di antara kabut. Setiap gerak Agni meninggalkan jejak bara di udara. Banyu menarik napas panjang, tubuhnya menguapkan kabut dingin di sekitar nyala itu.

“Hai, Agni, apa kabar?” sapanya lembut, seperti suara hujan pertama di musim kemarau.

Agni menoleh, matanya menyala oranye keemasan, bibirnya berkedut antara tawa dan amarah. “Untuk apa kau mendekatiku, Banyu? Kau ingin memadamkanku? Melenyapkan aku dari cahaya?” suaranya pecah seperti bara yang tersentuh angin, melengking dan menyayat udara.

Banyu mendekat setapak, tubuhnya memantulkan cahaya api hingga menyerupai perak cair. “Aku tidak ingin melenyapkanmu, Agni,” katanya perlahan. “Jika kau tenang, aku takkan membunuhmu. Aku datang membawa kesejukan, bukan ancaman.”

Namun setiap kata itu membuat api Agni menari lebih liar. Bara di pundaknya berkobar, napasnya mengeluarkan semburat panas yang membuat udara berdesis. “Kau tak mengerti, Banyu,” katanya tajam, “Setiap kali kau datang, aku kehilangan bentukku. Kau membuatku jinak, dan aku bukan api jika aku tidak membakar.”

Banyu menatapnya dengan kesedihan yang nyaris seperti cinta. “Agni,” bisiknya, “Kau bisa tetap menyala tanpa melukai. Keindahanmu bukan pada amarahmu, tapi pada cahaya yang kau berikan.”

Untuk sesaat, Agni terdiam. Api di tubuhnya mengecil menjadi pijar lembut. Ia mendekat, lalu tanpa peringatan memeluk Banyu. Suhu di udara melonjak, uap putih mengepul dari pelukan mereka, pertemuan dua unsur yang saling menegasikan tapi juga saling merindukan. Banyu menahan panas itu di dadanya, membiarkan tubuhnya bergetar antara sakit dan hangat.

“Untuk sementara, jauhilah Bayu,” bisik Banyu di telinga Agni. “Kasihan Bumi, ia terlalu lemah untuk menahan amarah kalian.”

Namun saat Banyu sedang menenangkan Agni, datang Bayu. Dia cemburu karena Banyu memeluk Agni. Tanpa bertanya-tanya, Bayu menyemburkan anginnya membuat Banyu yang tidak siap terpental, dan Agni pun meloncat menjadi semburan Api. Dia mendekati Bayu. Bayu menyambutnya. Banyu berusaha menenangkan kemarahan Bayu. Bayu tenang, aku tidak bermaksud merebut Agni, tetapi sebaiknya kamu dan Agni menjaga jarak. Kedekatan kalian membuat Bumi kesakitan.

“Bukan aku yang menyebabkan Bumi kesakitan,” bantah Bayu. Aku dekat dengan Agni, dia selalu mau mendengarkan keluhanku, memangnya Cuma Bumi yang punya masalah. Aku harus terus menyapu bau di Bumi, aku juga kepanasan. Jadi aku harus menghembuskan nafasku. Bukankah kamu beruntung ada aku, sehingga kamu pun bisa melepaskan lelahmu yang terus berada dalam gendongan awan. Bayu benar-benar tidak mau disalahkan, dia merasa sudah melakukan kewajibannya sebagai angin. Agni adalah temannya, terus Banyu ingin menjauhkannya, wah bahkan dia bisa membahayakan Agni, dia pasti mau melenyapkan Agni. Gerutu Bayu.

Bumi hanya bisa menyaksikan pertengkaran Banyu dan Bayu. Banyu yang biasanya tenang pun kembali mencurahkan hujan, namun kemudian dilibas oleh Bayu. Sehingga perkelahian itu menyebabkan hujan badai. Atap rumah berterbangan, pohon-pohon tumbang. Bumi pasrah melihat betapa porak poranda keadaannya. Agni datang, “Bumi kamu tidak bisa diam saja, mereka sudah keterlaluan.” Agni menghembuskan panasnya untuk membuat bumi marah. Suhu pun mulai panas Bumi bergerak, goyangannya membuat laut ikut bergejolak. Air Laut pun tumpah ke bumi, menggenangi Bumi. Pergerakan bumi menimbulkan gempa, dan menyebabkan Bumi kembali porak poranda. Semakin Bumi kepanasan, dia menggeliat tetapi semakin Bumi kesakitan.

Agni menyaksikan dengan senyum melihat Bumi, yang porak poranda akibat Banyu, Bayu dan Bumi. Agni menyeringai, tinggal giliran aku. Dia mencari Bayu, Bayu sedang duduk di pohon besar. Setelah pertengkarannya dengan Banyu membuatnya lelah. Di hutan di bawah pohon besar dia mengisitirahatkan badannya. Saat dia menikmati kesendirian dan menenangkan diri, Agni datang. “Bayu, ayo temani aku menari,” ajak Agni dengan manja. Bayu pun tergoda oleh ajakan Agni. “Ayo,” sambil bayu pun bangun dan mendekati Agni. Agni senang karena godaannya berhasil. Maka dengan segera dia pun menyambar Bayu, dan akhirnya hutan pun terbakar.

Banyu dari jauh mulai melihat asap dan langitpun mulai berkabut. “Ah ini pasti ulah Bayu dan Agni,” resah Banyu. Dia berusaha untuk mengurangi kabut asap, namun karena perkelahiannya dengan Bayu menyebabkan curah hujan tidak bisa menghalau api. Agni pun dengan liciknya menyelinap ke Bumi, sehingga tidak terlihat nyalanya, hanya terlihat asapnya.

Bayu tidak membantu menghalau, asap. Dia diam. Bumi pun menjadi gelap terselimuti kabut asap, penghuni bumi terganggu, banyak yang sakit terganggu pernapasannya. Manusia panik, menghadapi bencana demi bencana. Bumi menjadi sasaran kesalahan.

Banyu dengan kemarahannya kembali mencari Bayu, dia akhirnya memanggil temantemannya sehingga terjadi banjir. Agni tak kuasa menahan luapan marahnya Banyu. Angin berlari-lari menghindari Banyu, akibatnya kembali terjadi Puting beliung. Bumi yang sudah tak tahan di tengah rintihannya, dia pun berteriak, “Sampai kapan kalian akan ribut terus, sampai kapan kalian menyakitiku.”

Akhirnya Bayu dan Banyu pun diam. Mereka gentar juga melihat kemarahan Bumi, sementara Agni perlahan-lahan kabur menghindari kemarahan Bumi.

Banyu, Bayu, dan Bumi duduk tenang. Bumi pun akhirnya dengan ketenangannya bicara, “Sampai kapan kalian akan terus bertengkar, apa kalian memang benar-benar ingin menghancurkan aku.”

Banyu dan Bayu menoleh, dengan bersamaan mereka menjawab, “Bukan kita yang salah.” “Lantas siapa yang salah,” kesal Bumi. Banyu dan Bayu serentak menjawab, “Manusia.”

Bumi terperanjat, dia pun diam. Merenungkan apa yang dikatakan oleh Banyu dan Bayu. Dengan masygul, dia mengangguk-angguk. Selama ini dia terus melindungi manusia-manusia yang menghuninya. Dia menahan kesakitan untuk menjaga manusia-manusia itu. Dan sekarang Banyu dan Bayu menyalahkan apa yang terjadi terhadap dirinya, justru oleh para penghuninya yang selama ini dia layani, dia lindungi.

Bumi pun menangis, karena dia merasa bersalah terlalu memanjakan manusia sebagai penghuninya. Bumi memberikan banyak hal kepada manusia.

Lalu dia mengangkat wajahnya memandang Bayu dan Banyu, dengan mata sendunya, “Lalu apa yang harus aku lakukan.”

Berikan mereka pelajaran, ingatkan bahwa apa yang terjadi merupakan ulah mereka. Mereka tidak bisa hanya meminta kamu layani, mereka juga harus sadar bahwa kamu perlu perlindungan dari mereka. Ibaratnya saling memberi, saling melindung, tidak bisa hanya satu pihak.

“Caranya bagaimana,” tanya Bumi. “Kita ingatkan kembali masa-masa hutan yang lebat, masa-masa musim yang teratur, masa-masa tanah yang subur,” ujar Bayu.

Bumi mengangguk, “ayo kita kerjasama.” Banyu dan Bayu pun setuju. Tapi kemudian, Bayu nyeletuk, “Kita harus mengajak Agni.”

“Bayu, jangan mulai lagi,” tegur Banyu.

“Memangnya salah kalau aku mengajak Agni,” bantah Bayu.

“Sudah-sudah, jangan mulai bertengkar,” lerai Bumi

“Kita akan mengajak Agni, pada waktunya,” Tegas Bumi

Bumi menghadap Ibu Pertiwi, untuk bisa menyampaikan pesan melalui kenangan kepada manusia.

Ibu pertiwi dengan tersenyum, menyambut Bumi dan bersedia untuk membantu menyampaikan pesannya kepada manusia.

Ketika Ibu Pertiwi memberikan kenangan kepada manusia, alam menjadi panggung sunyi tempat kenangan purba menari kembali ke dalam ingatan. Ia menunduk, dengan mata selembut tanah basah selepas hujan. Dari jemarinya yang berlumur cahaya, mengalir serpihan masa lampau, masa ketika bumi masih bernafas dalam irama yang utuh.

Ia meniupkan kenangan itu ke dalam tidur manusia. Mula-mula, manusia melihat dirinya kecil, berjalan di tengah hutan yang rimbun, di mana udara beraroma basah daun dan akar. Pohonpohon berdiri tegak seperti para rahib yang sedang sembahyang. Bayu berbisik di sela dahan, membawa kidung dari langit, sementara Banyu berlari di bawahnya, bening, jenaka, dan penuh kasih. Agni menari di kejauhan, bukan sebagai amarah, melainkan cahaya kecil yang menuntun arah manusia pulang.

Dalam kenangan itu, manusia merasakan bagaimana tanah pernah memeluk benihnya dengan kasih, bagaimana air mencuci tubuh dan jiwanya, bagaimana angin menyalakan kehidupan dalam napasnya, dan bagaimana api memberi kehangatan tanpa membakar. Semua unsur saling berjanji dalam sunyi: untuk menjaga satu sama lain.

Tapi seiring waktu, manusia lupa. Ia memanen lebih banyak dari yang ia tanam, menggali lebih dalam dari yang ia pahami, membakar lebih luas dari yang ia butuhkan. Ibu Pertiwi menggigil menyaksikan tangan-tangan itu mencabik tubuhnya. Maka ia memanggil kembali kenangan, agar manusia teringat akan kesucian asalnya.

Langit menggelap, seakan menarik napas panjang sebelum menangis. Banyu mencurahkan amarahnya dalam deras hujan, menyapu jalan-jalan yang kini menjadi sungai. Bayu menjerit dalam pusaran angin, menghantam atap-atap rumah yang rapuh. Agni menyalakan bara di perbukitan, membakar sisa-sisa hutan yang dulu meneduhkan bumi. Di bawah sana, manusia berlarian dalam kebingungan, tubuh kecil mereka berusaha melawan kuasa alam yang sedang menegakkan keadilan.

Seorang ibu menggenggam tangan anaknya di tengah arus air yang meluap. Jeritnya tenggelam dalam gemuruh badai. Di tempat lain, seorang kakek berdiri mematung di depan rumahnya yang tinggal puing, sementara bau asap dan lumpur bercampur dalam udara yang berat. Di pasar, ikan-ikan melompat di antara jalanan tergenang, kehidupan dan kematian beradu tanpa jarak.

Malam-malam menjadi lebih panjang dari biasanya. Tangis bayi terdengar dari tenda-tenda darurat. Setiap embusan angin membawa dingin yang menembus tulang. Manusia belajar diam, memandangi langit tanpa suara, berharap hujan segera berhenti, berharap bumi berhenti menggeliat. Namun di balik ketakutan itu, ada kesadaran yang perlahan tumbuh, bahwa mereka bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari tubuhnya sendiri.

Di antara reruntuhan, seorang bocah menengadahkan wajah ke langit, memungut sehelai daun yang masih hijau. Ia menatapnya lama, seolah daun itu masih berbisik, “Aku masih hidup.” Dalam tatapan bocah itu, Ibu Pertiwi melihat secercah harapan yang tersisa. Maka ia pun turun, membawa kenangan sebagai pelita di tengah gelap.

Langit pun mengangguk dalam warna senja, air berkilau di bawahnya, dan angin membawa harum tanah basah, tanda bahwa bumi dan manusia kembali berdamai, berjalan seiring menuju keabadian harmoni.

Air jernih mengalir dengan tenang memberikan penghidupan kepada manusia, dengan sumber makanan penuh nutrisi yang dapat diambil dari sungai dan laut. Manusia dapat menikmati aliran sungai untuk membersihkan badannya, untuk memasak, untuk berbagai hal dalam kehidupan manusia.

Angin senantiasa mengiringi manusia saat kepanasan, aktivitas manusia berjalan membantu menyalakan api, membantu menurunkan hujan, membantu manusia bernapas. Mereka bahagia menikmati isi bumi, dengan cuaca yang teratur. Alam yang ramah kepada manusia, melindungi, dan memberi sumber penghidupan kepada manusia.

Manusia pun asyik menikmati dengan bebas sumber daya yang tersedia di bumi, mereka menciptakan berbagai hal untuk memudahkan hidupnya. Namun ketika manusia lupa bahwa Bumi tidak bisa hanya dieksplorasi tanpa keseimbangan, itu justru akan membuat beban bumi menjadi berat. Karena tubuhnya tidak seimbang lagi. Pohon berkurang, tanah dibeton hingga tidak dapat menyerap air, tubuh bumi terus dikoyak hingga muncul rongga-rongga dalam tubuhnya yang menjadi sumber penyakit bagi bumi, penyakitnya akan dipancarkan kepada manusia. Ketika bumi sakit karena keracunan bahan-bahan kimia dari limbah manusia, maka napas bumi akan berhembus kepada manusia. Manusia akan kepanasan, tercemar dengan bau, airnya menjadi sumber penyakit, udara pun sama penuh polusi.

Kesakitan bumi akan memancar dan meyebarkan berbagai penyakit kepada manusia. Kesakitan itu pun dapat berwujud gempa, banjir bahkan panas yang ekstrim, dan mungkin saja virus yang menyebarkan penyakit.

Kondisi Bumi tersebut akan menjadi parah ketika air tidak mendapatkan tempat untuk tinggal, air tidak dapat membersihkan dirinya karena sampah dan limbah. Angin sesungguhnya ingin membantu Bumi untuk menyejukkan namun karena panas yang terlalu menyengat menimbulkan bara api, karena air tidak dapat menyeimbangkan pergerakan angin dan api. Akhirnya bencana kebakaran terjadi.

Kenangan Bumi pun melintas dalam pikiran manusia, mereka mulai menyadari bahwa berAgama bukan hanya sekedar memohon kepada Tuhan, bukan hanya sekedar beribadah, hapal isi kitab suci, menjaga hubungan baik dengan manusia. Alam pun harus di dengar. Dalam agama-agama mengajarkan bahwa bumi adalah sumber kehidupan yang senantiasa harus dijaga. Banyu sebagai simbol kesucian dan pemurnian dan Bayu sebagai simbol kekuasaan.Tuhan yang dapat memberikan kesuburan, kenyamanan, membawa hujan, dan juga azab.

Oleh karenanya manusia harus menjaga hubungan baik dengan alam. Bumi, Banyu, dan Bayu adalah sumber penghidupan manusia yang harusnya dijaga perasaannya, tidak hanya digunakan namun tidak diperhatikan kebutuhan mereka. Oleh karenanya mereka pun protes untuk mengingatkan manusia bahwa mereka terganggu dengan ulah manusia, mereka kesakitan menerima terpaan-terpaan kemajuan pikiran manusia, mereka juga lelah memenuhi keinginan manusia.

Dari kenangan yang diberikan ibu pertiwi kepada manusia, akhirnya manusia menyadari kesalahannya. Saat ini manusia pun terus berupaya untuk menjaga hubungan baik dengan Bumi, Bayu, dan Banyu. Mereka ingin kembali kepada hubungan harmonis sebagaimana pernah terjadi sebelumnya.

Peringatan Ibu Pertiwi kepada manusia pun telah mengembalikan manusia pada hakekat beragama, menjaga makna dalam kitab suci, menjaga alam tempat tinggalnya sebagai kewajiban sebagai ibadah. Manusia beramai-ramai membangun kembali hubungan baik dengan Bumi.

Bumi tersenyum, Banyu dan Bayu pun tersenyum. Mereka saling menjaga, kalaupun mereka lelah dan marah, ada penangkalnya yaitu pepohonan. Ketika air keruh ada Banyu yang membantu membawa hujan dan binatang yang bisa mengurai sampah. Sampah yang tidak bisa diurai sudah dibantu oleh manusia untuk mengurainya sehingga tidak membebani bumi, tidak membebani Banyu. Angin pun dengan senang hati membawa bau harum, berteman dengan api untuk menghangatkan Bumi, menyalakan api untuk menerangi bumi dan sumber kehidupan manusia.

Indahnya ketika hubungan mereka harmonis. Bumi tersenyum, Banyu tertawa dan bernyanyi, Bayu meliuk menari indah membuat Agni pun tersenyum lembut dan meliuk dengan indah. Tawa canda Bumi, Banyu, Bayu, dan Agni senantiasa mengiringi tarian pepohonan dan nyanyian penghuni bumi, menjadi nyanyian indah yang menenangkan bagi manusia.

admin

Penulis dan pemikir di balik kata-kata Jejak Puji. Menulis untuk membagi rasa, meretas batas ingatan, dan menghidupkan kisah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *