{"id":22,"date":"2026-06-01T11:51:29","date_gmt":"2026-06-01T11:51:29","guid":{"rendered":"https:\/\/jejakpuji.com\/wordpress\/?p=22"},"modified":"2026-06-01T11:51:29","modified_gmt":"2026-06-01T11:51:29","slug":"obrolan-di-ujung-gang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jejakpuji.com\/?p=22","title":{"rendered":"OBROLAN DI UJUNG GANG"},"content":{"rendered":"<p>Pagi itu, matahari datang tanpa semangat.<\/p>\n<p>Cahayanya jatuh diujung gang sempit, menyentuh tumpukan yang tak pernah benar-benar dianggap ada. Selain ketika baunya mulai mengganggu. Di sanalah, di sudut yang dibatasi tembok retak dan pot bunga pecah, dua dunia bertemu dalam diam; yang dibuang dan yang membuang.<\/p>\n<p>Tak ada yang tahu sejak kapan percakapan itu dimulai.<\/p>\n<p>Mungkin sejak pertama kali manusia lupa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mungkin sejak sesuatu yang seharusnya kembali ke tanah justru bercampur dengan sesuatu yang tak pernah bisa pulang.<\/p>\n<p>Atau mungkin, percakapan itu selalu ada, hanya saja manusia tak pernah cukup diam untuk mendengarnya.<\/p>\n<p>\u201d aku heran sama kamu\u201d suara itu lirih, sedikit bergetar, seperti tubuh yang mulai kehilangan bentuknya. \u201dkenapa kamu selalu menjauh?\u201d<\/p>\n<p>Yang ditanya tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat, seolah mempertimbangan apakah percakapa ini layak diteruskan . tubuhnya masih utuh, licin, dan keras. Warna-warna cerah yang dulu, membuatnya menarik kini justru membuatnya mencolok di antara kotoran.<\/p>\n<p>\u201caku\u2026tidak menjauh,\u201djawabnya akhirnya<\/p>\n<p>Sisa makan itu terdiam.<\/p>\n<p>Ia memang bau. Ia tahu. Sejak semalaman, sejak ia dibuang begitu saja dari piring yang belum benar-benar kosong. Nasi yang masih hangat, sayur yang bahkan belum disentuh sepenuhnya. Semua menjadi satu, membusuk pelan-pelan, ditemani lalat yang tak pernah permisi.<\/p>\n<p>\u201daku tidak pernah minta jadi seperti ini, \u201dkatanya pelan.<\/p>\n<p>Plastik itu menghela napas, jika ia bisa bernapas.<\/p>\n<p>\u201dkita semua tidak pernah minta dibuang.<\/p>\n<p>Hening sebentar.<\/p>\n<p>Angin lewat, membawa sedikit bau yang menyebar ke rumah-rumah di sekitarnya dari dalam salah satu rumah, seorang perempuan menutup jendela cepat.<\/p>\n<p>\u201dbau sekali&#8230;,\u201d gumamnya.<\/p>\n<p>Tak ada yang menjawab<\/p>\n<p>Gang itu sebenarnya tidak terlalu buruk<\/p>\n<p>Ada anak-anak yang masih bermain di sore hari, berlari sambil tertawa, meski harus menghindari genangan dan bau. Ada ibu-ibu yang sesekali duduk di teras, berbincang tentang harga cabai dan kabar tetangga. Ada juga bapak-bapak yang pulang malam dengan wajah Lelah, membawa sisa-sisa hari yang tak pernah benar-benar selesai.<\/p>\n<p>Namun diujung gang itu, selalu ada sesuatu yang dibiarkan. Tempat sampah yang tak pernah cukup. Kantong-kantong yang diletakkan begitu saja. Dan waktu yang seperti lupa untuk datang mengangkut.<\/p>\n<p>\u201dAku iri sama mereka.\u201d<\/p>\n<p>Plastik itu memecah keheningan<\/p>\n<p>\u201dSiapa?\u201d tanya sisa makanan<\/p>\n<p>\u201dranting-ranting itu. Daun-daun yang jatuh di halaman. Mereka menyatu dengan tanah.hilang dengan cara yang tenang.\u201d<\/p>\n<p>Sisi makanan tersenyum pahit.<\/p>\n<p>\u201ckamu tahu? Aku sebenarnya juga bisa seperti itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dlalu kenapa tidak?\u201d<\/p>\n<p>\u201dKarena aku tidak sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Mereka saling diam lagi<\/p>\n<p>Diantara mereka, ada yang lain, botol kaca, kertas basah, pecahan styrofoam, dan sesuatu yang sudah tak bisa lagi dikenali. Semuanya bercampur, saling menekan, saling\u00a0 kehilangan identitas.<\/p>\n<p>\u201daku bosan,\u201d kata plastik itu tiba-tiba. \u201daku tidak bisa kembali. Aku hanya&#8230;ada lama sekali.\u201d<\/p>\n<p>\u201dKamu kalau diolah lagi ?\u201d tanya sisa makanan, mencoba mencari kemungkinan.plastik itu tertawa kecil.<\/p>\n<p>\u201dBisa. Aku bisa jadi sesuatu yang berguna lagi. Tapi&#8230;siapa yan mau repot?\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan itu menggantung<\/p>\n<p>Tidak perlu dijawab.<\/p>\n<p>Siang menjelang, panas mulai terasa. Bau semakin kuat. Lalat semakin banyak. Dan di satu titik, sesuatu mulai bergerak di tubuh sisa makan itu.<\/p>\n<p>\u201daduh&#8230;\u201d<\/p>\n<p>\u201dapa?\u201d plastik itu bertanya<\/p>\n<p>\u201dmereka datang lagi.\u201d<\/p>\n<p>\u201dsiapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201dyang itu&#8230;kecil-kecil &#8230;putih\u2026\u201d<\/p>\n<p>Plastik itu tidak menjawab. Ia tahu<\/p>\n<p>Belatung<\/p>\n<p>\u201dMaaf ya,\u201d kata sisa makanan pelan. \u201daku\u00a0 jadi..tidak enak didekati.\u201d<\/p>\n<p>Plastik diam sebentar, lalu berkata dengan nada mencoba ringan, \u201cKamu genit.\u201d<\/p>\n<p>Sisa makanan itu tertawa, meski pahit.<\/p>\n<p>\u201dbukan genit. Risih.\u201d<\/p>\n<p>\u201dYa..begitulah siklusmu.\u201d<\/p>\n<p>Iya. Aku tahu aku akan habis. Tapi..tetap saja.\u201d<\/p>\n<p>Tetap saja, ada rasa tidak nyaman ketika tubuh perlahan menjadi sesuatu yang lain. Ketika kehadiranku sendiri mulai berubah menjadi makanan bagi yang lain.<\/p>\n<p>\u201daku juga tidak enak,\u201d kata plastik itu tiba-tiba.<\/p>\n<p>\u201dkamu kenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201daku tidak berubah. Itu masalahnya.\u201d<\/p>\n<p>Mereka saling memahami, dengan cara yang aneh<\/p>\n<p>Yang satu terlalu cepat hilang. Yang satu terlalu lama tinggal<\/p>\n<p>Keduanya sama-sama tidak diinginkan.<\/p>\n<p>Sore hari, seorang anak perempuan lewat<\/p>\n<p>Ia membawa kantung kecil ditangannya, berhenti sebentar di ujung gang, lalu menatap tumpukan itu. Tidak lama, hanya beberapa detik. Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.<\/p>\n<p>\u201dbu,\u201d katanya kemudian, memanggil ke dalam rumah.\u201d Ini kok nggak diangkut-angkut ya?\u201d<\/p>\n<p>Dari dalam , suara ibunya menajwab, \u201dIa nanti juga diambil.\u201d<\/p>\n<p>\u201dkapan?\u201d<\/p>\n<p>\u201dYa&#8230;nanti.\u201d<\/p>\n<p>Anak itu tidak langsung pergi.<\/p>\n<p>Ia mendekat sedikit, menutup hidungnya, lalu melihat lebih lama. Matanya bergerak dari satu benda ke benda lain, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum pernah diajarkan secara utuh.<\/p>\n<p>\u201dkasihan ya &#8230;\u201dgumamnya.<\/p>\n<p>Tak ada yang mendengar.<\/p>\n<p>Atau mungkin ada<\/p>\n<p>Malam datang pelan.<\/p>\n<p>Lampu-lampu menyala, satu per satu. Gang itu kembali hidup dengan suara televisi, percakapan, dan sesekali tawa. Namun di ujung gang, waktu terasa lebih lambat.<\/p>\n<p>\u201daku tadi dipandang,\u201d kata sisa makanan.<\/p>\n<p>\u201dSiapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201danak kecil itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dLalu?\u201d<\/p>\n<p>\u201dentah . Rasanya&#8230;berbeda.\u201d<\/p>\n<p>Plastik itu tidak menjawab.<\/p>\n<p>Ia juga merasakan sesuatu.<\/p>\n<p>Ada jeda yang tidak biasa. Ada perhatian yang tidak sering datang.<\/p>\n<p>\u201cmenurutmu,\u201dsisa makanan itu berkata lagi,\u201d manusia itu ngerti nggak?\u201d<\/p>\n<p>Plastik itu diam lama<\/p>\n<p>Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab cepat.<\/p>\n<p>\u201daku tidak tahu,\u201dkatanya akhirnya. \u201dmungkin mereka tahu. Tapi lupa.\u201d<\/p>\n<p>\u201dLupa?\u201d<\/p>\n<p>\u201diya. Mereka tahu bahwa kita tidak seharusnya disini. Tapi mereka terbiasa.\u201d<\/p>\n<p>Terbiasa.<\/p>\n<p>Kata itu jatuh pelan, tapi berat.<\/p>\n<p>Beberapa hari kemudian, sesuatu berubah.<\/p>\n<p>Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk menggeser sedikit kebisaan.<\/p>\n<p>Di ujung gang itu, muncul dua tempat berbeda.<\/p>\n<p>Satu untuk yang basah. Satu untuk yang kering.<\/p>\n<p>Tidak semua orang langsung mengikuti. Tidak semua orang peduli. Tapi ada yang mulai mencoba.<\/p>\n<p>Anak perempuan itu, misalnya.<\/p>\n<p>Ia datang setiap pagi, membawa dua kantong kecil. Ia berhenti sebentar, memastikan semuanya berada di tempat yang benar. Kadang ia masih ragu, kadang ia bertanya.<\/p>\n<p>\u201dbu, ini masuk mana?\u201d<\/p>\n<p>Ibunya yang kini lebih sering keluar rumah, menjawab sambil ikut memilah.<\/p>\n<p>\u201dYang ini ke sini. Yang itu ke sana\u201d<\/p>\n<p>Perubahan kecil<\/p>\n<p>Tapi nyata.<\/p>\n<p>Suatu pagi, truk datang.<\/p>\n<p>Tidak seperti biasanya, yang hanya mengambil dan pergi, kali ini ada seseorang yang turun.ia memerikasa, memilah lagi, lalu mengangkut dengan lebih hati-hati.<\/p>\n<p>Sisa makanan itu sudah hampir habis.<\/p>\n<p>Tubuhnya menyatu dengan yang lain, berubah menjadi sesutau yang lebih gelap, ia lebih tenang.<\/p>\n<p>\u201daku rasa&#8230;aku akan pergi duluan,\u201dkatanya pelan.<\/p>\n<p>Plastik itu diam<\/p>\n<p>\u201dIya.\u201d<\/p>\n<p>\u201djangan lama-lama di sini ya.\u201d<\/p>\n<p>Plastik itu tidak menjawab.<\/p>\n<p>Ia tahu, ia akan tetap ada<\/p>\n<p>lebih lama dari yang lain.<\/p>\n<p>Beberapa minggu kemudian, gang itu terasa berbeda.<\/p>\n<p>Tidak sepenuhnya bersih. Tidak sempurna. Tapi tidak lagi seperti dulu.<\/p>\n<p>Air mengalir sepenuhnya bersih. Air mengalir lebih lancar, bau tidak lagi menyengat. Dan di ujung gang, tidak ada lagi tumpukan yang membisu terlalu lama.<\/p>\n<p>Plastik itu akhirnya berpindah.<\/p>\n<p>Ia tidak tahu kemana. Mungkin ke tempat pengolahan.Mungkin ke tempat lain yang belum ia pahami. Tapi ia tidak lagi berada di sana.<\/p>\n<p>Di tempat yang lama, kini hanya ada tanah yang perlahan pulih.<\/p>\n<p>Dan di atasnya,beberapa daun jatuh.<\/p>\n<p>Tenang.<\/p>\n<p>Seperti yang pernah ia iri-kan<\/p>\n<p>\u201dmenurutmu, mereka akhirnya ngerti?\u201d<\/p>\n<p>Suar itu seperti datang dari ingatan.<\/p>\n<p>Atau dari sesuatu yang tersisa.<\/p>\n<p>Jawabnya tidak langsung terdengar<\/p>\n<p>Mungkin karena memang belum selesai.<\/p>\n<p>Mungkin karena memahami tidak pernah benar-benar tuntas, ia selalu harus diulang, diajarkan, diigatkan.<\/p>\n<p>Tapi di suatu pagi yang sederhana, ketika seorang anak kecil berhenti sejenak sebelum membuang sesuatu, lalu memilih tempat yang tepat, di situlah, mungkin, jawaban itu mulai tumbuh.<\/p>\n<p>Pelan.<\/p>\n<p>Seperti tanah yang kembali menerima.<\/p>\n<p>Seperti aliran yang akhirnya menemukan jalan.<\/p>\n<p>Dan seperti percakapan yang dulu hanya terdengar di antara yang terbuang, kini, perlahan, mulai didengar oleh mereka yang membuang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pagi itu, matahari datang tanpa semangat. Cahayanya jatuh diujung gang sempit, menyentuh tumpukan yang tak pernah benar-benar dianggap ada. Selain&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[3],"class_list":["post-22","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-obrolan-sampah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22\/revisions\/23"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}