{"id":64,"date":"2026-07-01T05:28:10","date_gmt":"2026-07-01T05:28:10","guid":{"rendered":"https:\/\/jejakpuji.com\/?post_type=karya&#038;p=64"},"modified":"2026-07-01T05:28:10","modified_gmt":"2026-07-01T05:28:10","slug":"sepatu","status":"publish","type":"karya","link":"https:\/\/jejakpuji.com\/?karya=sepatu","title":{"rendered":"SEPATU"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku punya kebiasaan aneh: tiap ke mall, pulangnya pasti bawa sepatu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin semua bermula dari masa kecil, waktu itu, sepasang sepatu baru yang dibelikan untukku malah diberikan ke sepupu. Katanya, dia lebih butuh. Orangtuaku janji akan membelikan lagi. Tapi sepatu itu tak pernah datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak menghasilkan uang sendiri, aku membalas dendam diam-diam. Setiap bulan, aku beli sepatu. Beragam warna dan model. Sampai kamar sebelah penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJangan-jangan nanti kita harus tidur bareng sama sepatu-sepatumu,\u201d keluh Adi, suamiku, sambil geleng-geleng kepala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya aku juga sering merasa menyesal ketika melihat tentengan belanjaanku. Aku seperti tidak sadar ketika mencoba dan kemudian membayarnya di kasir. Aku coba berhenti. Suatu malam, di kamar penuh koleksi sepatu. Lampu redup. Sepi. Tapi tiba-tiba\u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku capek Cuma dipajang, bisik sebuah suara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku menoleh. Kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kulitku udah mulai ngelupas!\u201d suara lain menyahut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNyonyaku jahat. Aku belum pernah dipakai ke luar rumah,\u201drengek sepatu slip-on yang masih terbungkus plastik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku membeku. Suara-suara itu terus bermunculan. Ribut. Panik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDiam!\u201d teriakku. \u201cKalian mau apa sih?!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami ingin berguna,Nyonya!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku terduduk. Suara-suara itu seperti datang dari dalam diriku sendiri. Mungkin aku gila. Tapi mungkin juga\u2026ini nurani yang selama ini kubungkam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keesokan harinya, aku mulai memilah. Sepatu-sepatu kukemas<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian kupajang di garasi dan kutulis: \u201cSepatu Layak Pakai\u2014Ambil Gratis.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adi memandangku dengan alis terangkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTumben, Ma. Hati lagi seluas samudra?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku hanya tersenyum. Tapi ia tahu, sesuatu dalam diriku telah berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi, kamar ini mau kamu kosongin, ya?\u201d tanyanya lagi sambil mengintip ke rak yang kini nyaris kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya. Kan sekarang semua sepatu cukup ditaruh di lemari belakang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia tertawa pelan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNanti kamar ini aku pakai, ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuat apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuat koleksi legoku. Udah nggak muat juga di ruang kerja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku mendelik, \u201cjadi, kamu nyuruh aku berhenti beli sepatu supaya kamu bisa pindahin mainanmu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia nyengir lebar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMa, kamu tuh polos banget. Kamu pikir suara sepatu yang kamu dengar malam itu asli ? Itu rekaman! Aku sembunyiin speaker kecil di belakang rak, lengkap dengan efek suara.Kamu lihat, \u2018kan,berhasil toh?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku ternganga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika, segala drama batin dan keputusan mulia semalam terasa seperti kena prank.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerarti kamu yang bikin semua sepatu itu \u2018berbicara\u2019?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa\u2026karena kamu nggak mau dengerin aku. Tapi kamu dengerin sepatu. Jadi aku ngomomg lewat mereka.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku melotot dan hendak mengeluarkan senjataku, cubitan sepedas cabe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat gelagat itu, Adi segera lari meghindari. Ampun Ma\u2026.tapi gara-gara itu kamu khan jadi sadar bahwa menumpuk sepatu itu hanya buang-buang uang. Mama bisa gunakan uang untuk hal yang lebih berguna.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku terdiam. Adi memegang pundakku dan berkata, aku bangga sama Mama hari ini, karena akhirnya bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, senyum adi sambil memandangi aku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kesal aku masih menjawab, tapi aku sebel tahu kena pranknya Papa, mulutku bersungut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adi tertawa. \u201cPrank edukatif.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku diam. Antara kesal dan geli. Tapi yang pasti, aku tak pernah merasa selepas ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berjalan ke luar rumah hanya dengan satu pasang sepatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang nyaman. Yang kupilih bukan karena luka masa lalu. Tapi karena akhirnya aku benar-benar siap melangkah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aku punya kebiasaan aneh: tiap ke mall, pulangnya pasti bawa sepatu.\u00a0 Mungkin semua bermula dari masa kecil, waktu itu, sepasang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","jenis_karya":[],"class_list":["post-64","karya","type-karya","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/64","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya"}],"about":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/karya"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=64"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/64\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/64\/revisions\/65"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=64"}],"wp:term":[{"taxonomy":"jenis_karya","embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fjenis_karya&post=64"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}