{"id":62,"date":"2026-07-01T05:26:25","date_gmt":"2026-07-01T05:26:25","guid":{"rendered":"https:\/\/jejakpuji.com\/?post_type=karya&#038;p=62"},"modified":"2026-07-01T05:26:25","modified_gmt":"2026-07-01T05:26:25","slug":"jendela-besar-itu","status":"publish","type":"karya","link":"https:\/\/jejakpuji.com\/?karya=jendela-besar-itu","title":{"rendered":"JENDELA BESAR ITU"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap pagi saat berangkat kerja, aku selalu melewati sebuah rumah tua dengan jendela besar. Rumah itu tampak megah, meski dimakan usia. Anehnya, aku tak pernah melihat siapa pun keluar-masuk. Rumah itu seolah terjebak dalam diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dibalik jendela besar itu, selalu ada seorang bapak tua yang duduk dengan wajah tenang, mengamati lalu lalang orang yang melintas d depannya. Tak pernah bicara, tak pernah beranjak. Hanya duduk. Diam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sejak kapan, aku terbiasa menoleh ke jendela itu setiap hari. Pagi saat berangkat kerja, dan sore saat pulang. Seperti kebiasaan yang tumbuh tanpa kusadari. Kepala ini selalu selalu reflex menengok ke arah jendela besar itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang menenangkan dari sosok bapak itu. Ketika orang-orang sibuk mengejar waktu, ia justru duduk diam, menatap kehidupan seperti seorang penonton setia dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa tidak bosan?\u201d pikirku. Duduk begitu saja dari pagi hingga sore. Siapa dia sebenarnya ? Dan kenapa aku jadi begitu tertarik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga suatu hari, saat aku menoleh seperti biasa, si Bapak tersenyum padaku. Aku terkejut. Selama ini ia hanya memandangi keramaian tanpa fokus pada siapa pun. Tapi kali ini, matanya seperti menyapaku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun keesokan harinya, jendela itu tertutup. Tak ada lagi bapak tua dibaliknya . Rasanya\u2026hampa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari itu di kantor aku gelisah, Tak bisa fokus. Ada sesuatu yang hilang, seperti potongan kecil dari hidupku tak lagi berada di tempatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sore harinya, aku bertekad: aku akan menyapa beliau. Aku ingin mengenalnya, atau sekadar mengucap terima kasih atas kehadirannya yang diam-diam menenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jendela itu masih tertutup. Tak berubah. Tak\u00a0 ada jawaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku mencoba bertanya pada penjual gorengan di seberang jalan, penjaga toko di dekat sana. Tapi tak satu pun tahu siapa penghuni rumah itu. \u201cSelalu begitu\u201d, kata mereka. \u201cKami juga tak pernah melihat siapa-siapa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari-hari berlalu. Jendela tetap tertutup. Dan pikiranku semakin terpaut. Rasanya aneh\u2014aku begitu kehilangan seseorang yang bahkan tak kukenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminnggu kemudian. Kerumunan memenuhi halaman rumah itu. Ada ambulans. Suara tangis. Kepanikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku mendekat. Rumah itu\u2026tampak berbeda. Lebih tua. Lebih kosong. Seperti rumah yang telah lama ditinggalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di ruang tamu yang berdebu, kulihat papan tulis penuh coretan cerita. Ada sketsa wajah, potongan kalimat, dan catatan harian. Semua tampak acak, tapi terasa hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diatas meja kayu, tergeletak sebuah naskah, lusuh oleh waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Judulnya : \u201cJendela Besar itu\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tokoh utamanya bernama: \u201cAku\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku menggigil\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seluruh kisah yang baru saja kualami, ternyata sudah dituliskan oleh Si Bapak. Detailnya persis, dari perjalananku menengok ke jendela, rasa penasaranku, hingga momen saat aku membaca naskah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku terduduk. Mataku tertumbuk pada kalimat terakhir naskah itu:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201clelaki itu mendekat ke jendela, dan akhirnya tahu\u2026dia telah membaca seluruh hidupku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku menoleh. Menatap jendela besar itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan di sana, aku melihat bayanganku sendiri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah aku benar-benar nyata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau hanya bagian dari tokoh rekaan si Bapak ?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam itu, aku membawa pulang naskah tersebut. Kubaca berulang-ulang, lalu kutulis kembali \u2013 dengan kalimat pembuka yang sama : \u201cSetiap pagi aku selalu menengok ke jendela besar itu\u2026\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap pagi saat berangkat kerja, aku selalu melewati sebuah rumah tua dengan jendela besar. Rumah itu tampak megah, meski dimakan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","jenis_karya":[7],"class_list":["post-62","karya","type-karya","status-publish","hentry","jenis_karya-cerita-pendek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/62","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya"}],"about":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/karya"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=62"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/62\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/karya\/62\/revisions\/63"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=62"}],"wp:term":[{"taxonomy":"jenis_karya","embeddable":true,"href":"https:\/\/jejakpuji.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fjenis_karya&post=62"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}